Panel 1
Kerajaan Badung adalah cikal bakal kota yang kita kenal Kota Denpasar hari ini. Badung memiliki tiga wilayah yakni Pemecutan, Denpasar dan Kesiman - yang dikenal sebagai tri tunggal. Kerajaan Badung muncul sebagai salah satu kekuasaan yang terpandang di Bali. Pasar Badung memperlihatkan bahwa daerah ini merupakan pusat ekonomi penting, selain itu Badung juga memiliki kesiapan militer dengan bekal persenjataan lengkap. Tidak luput penuh dengan pengembangan seni budaya seperti Tari Gambuh. Badung telah memiliki peradaban yang maju sebelum Perang Puputan terjadi.
Panel 2
Peristiwa Kapal Srikomala yang terdampar pada tanggal 27 Mei 1904 di Pantai Sanur datang dengan tuduhan terhadap rakyat Sanur. Dinyatakan bahwa rakyat Sanur melakukan perampokan serta dikenakan denda oleh Pihak Belanda. Para Punggawa, rakyat Sanur, menghadap Raja I Gusti Ngurah Made Agung di Puri Denpasar menyampaikan keberatan atas tuduhan penjarahan tersebut. Rakyat dan Raja bersumpah bahwa tidak ada perampokan kapal yang terjadi.
Panel 3
Raja berpegang teguh pada laporan dan sumpah tersebut berdasarkan tiga pramana (sumber atau alat untuk memperoleh pengetahuan yang valid) yang saling melengkapi: bukti yang diamati langsung (pratyaksa pramana), membaca gejala dari bukti tidak langsung (anumana pramana) hingga memutuskan membela kepatutan - yakni keadilan, etika dan norma yang seharusnya sesuai dengan dharma (agama pramana). Keteguhan Raja Denpasar yang merasa rakyatnya difitnah ternyata tidak dipercaya dan terus mendapatkan tekanan ancaman denda tetap harus dibayar kepada pihak Belanda. Sehingga pemecahan masalah akan penuduhan ini tidak berhasil. Invasi militer pada tanggal 14 September 1906 tak terelakkan, area Sanur sampai Puri Kesiman tak luput digempur Belanda.
Panel 4
Puput artinya akhir. Perang Puputan menjadi sikap Kerajaan Badung beserta masyarakatnya yang tidak akan menyerahkan diri di tengah tembakan meriam yang lanjut menghujani Puri Denpasar dan Puri Pemecutan. Perang ini bagai bom waktu sejak Srikomala karam. Raja Badung menggelar pelebon(kremasi) kakanda pada tanggal 19 September 1906. Upacara itu menyiratkan makna yang mendalam, karena pada saat itu sekaligus diadakan upacara mepepegat (memutus hubungan dengan dunia kehidupan), ribuan warga disirati tirta pangentas(air suci), meminta restu kepada Tuhan dan leluhur akan terjadinya perang di tanggal 20 September 1906, menghadapi koloni Belanda sampai titik darah penghabisan.
Panel 5
Tanggal 20 September 1906, Raja Denpasar dan pasukannya bergegas berangkat ke medan perang. Semua berpakaian dengan wastra dan perhiasan terindahnya, dengan barisan perempuan dan anak-anaknya ikut di turun ke medan perang. Puri diperintahkan untuk dibakar, para perempuan bergantian melempar uang dan perhiasan terbaiknya pada pasukan Belanda sebagai bentuk penghinaan. Dalam sengitnya pertempuran menggenggam Keris Singapraga dan Jalak Kadingding, Raja dan pasukan bertempur sampai gugur tak kuasa menahan serbuan peluru, menandai runtuhnya Puri Denpasar.
Panel 6
Suasana tenang dan senyap, dikira meriam telah menggugurkan Badung seutuhnya. Ternyata pasukan Badung bersembunyi siap membentengi puri terakhir, Puri Pemecutan. Pasukan Badung menyergap pasukan Belanda yang menyusuri Tukad Badung (Sungai Badung) sehingga perang berlanjut di sungai. Seorang pemimpin pasukan Belanda dibunuh oleh pasukan Badung di atas kudanya. Perang dahsyat itu membuat pasukan Belanda jengah dan harus menunggu bantuan pasukan dari Sesetan.
Panel 7
Pada sore harinya pasukan Belanda berhasil sampai di Puri Pemecutan. Dengan gagahnya, Raja Pemecutan ditandu di atas jempana, diiringi para brhamana, keluarga, dan rakyatnya. Berperang sengit, menelan banyak korban di antara kedua pihak, Raja gugur dalam kemilau jempana bersama pengiringnya. Sebuah gambaran bahwa pengorbanan darmaning ksatrya ngukuhin kepatutan: tugas suci kesatria adalah meneguhkan etika dan norma yang seharusnya sesuai dengan dharma. Mereka puput, gugur sebagai kesuma bangsa.
Panel 8
Perang Puputan Badung 1906 mengakhiri dan mengawali era baru. Rasa membela tanah Badung dan Bali dari koloni Belanda serta bentuk penjajahan lainnya terus berkobar tanpa henti. Para kesuma bangsa telah membela kepatutandengan nilai penting: “Mati tan Tumut Pejah”: mati di medan perang namun perjuangan tidak pernah mati. Keberanian dan keteguhan prinsip, hendaklah menjadi landasan dalam mengarungi tantangan berbagai dinamika arus zaman. Ini menjadi pesan terpenting yang terus diingatkan para leluhur kepada generasi-generasi mendatang